Home / Nasional

Senin, 22 Juni 2020 - 11:24 WIB

Awas, DBD Mengancam di Masa Pandemi Covid-19

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid. (covid19.go.id)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid. (covid19.go.id)

JAKARTA, Transparanmerdeka.co – Di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap ancaman penyakit lain, seperti demam berdarah dengue (DBD). Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 65 ribu kasus demam berdarah yang sudah terjadi di seluruh Indonesia.

Angka kematian penyakit DBD termasuk tinggi, yakni hampir 400 jiwa. Ini menjadi tantangan di tengah pandemi Covid-19, khususnya terhadap masyarakat di wilayah-wilayah endemis malaria. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat pada tahun ini kasus demam berdarah antara 100 sampai dengan 500 kasus per hari.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid menyampaikan, masyarakat perlu waspada dengan ancaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terutama di daerah dengan angka kasus Covid-19 yang tinggi, seperti di Provinsi Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

Baca juga  Update Covid-19 pada 22 November: Mulai Besok Tembus Setengah Juta

Menurutnya, demam berdarah adalah suatu penyakit yang sampai sekarang juga belum ada obatnya. “Vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk, dan sama-sama virus ini,” ucap dr Siti pada dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, pada Senin (22/6/2020).

Di masa pandemi Covid dan ancaman penyakit demam berdarah, Dokter Siti menyampaikan tiga tantangan yang dihadapi masyarakat. Pertama, kegiatan jumantik atau juru pemantau jentik menjadi tidak optimal karena saat ini menuntut adanya social distancing. Kedua, sudut-sudut bagian bangunan seperti mushola, tempat ibadah, dan bangunan lain yang ditinggalkan karena kebijakan kerja dan belajar dari rumah.

Baca juga  Demo Tolak UU Cipta Karya Ricuh, Polri Imbau Peserta Unjuk Tak Terprovokasi

Ketiga tentunya, karena masyarakat banyak berada di rumah, sehingga penting, bahwa kita melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) itu di rumah. Diharapkan saat beradaptasi kebiasaan baru seperti sekarang ini, masyarakat dapat memanfaatkan untuk pemberantasan sarang nyamuk. Hal tersebut dapat dilakukan di sekolah, rumah ibadah dan hotel terutama.

Dokter Siti menekankan keluarga untuk berinisiatif dalam pemberantasan nyamuk sehingga demam berdarah dapat dicegah. Masyarakat dapat melakukan pencegahan utama melalui 3 M yakni menguras, menutup dan mendaur ulang.

“Selain tentunya ventilasi yang baik, kemudian tidak menumpuk baju, digantung seperit itu, karena nyamuk sangat senang sekali setelah menggigit bergelantungan, karena itu memang sifatnya nyamuk, bergelantungan, karena adem,” kata dr. Siti saat menjelaskan mengenai langkah 3 M. (adm)

Share :

Baca Juga

Nasional

Update Covid-19 Indonesia Pada 8 Oktober: Bertambah 4.850 Kasus

Nasional

Update Covid-19 pada 7 Januari: Rekor Baru Pasien Positif

Nasional

Presiden Jokowi: Langkah Penanganan Covid-19 Harus Cepat, Tepat, dan Akuntabel

Nasional

Pekan Depan, Menteri PAN-RB Bahas Nasib 75 Pegawai KPK

Nasional

RS Darurat Covid-19 Dibagi 3 Zona, Tak Sembarang Orang Bisa Masuk

Nasional

Tambah 5 Korban Sriwijaya Air Teridentifikasi, Total Sudah 17 Jenazah

Nasional

Dua Kasus Covid Asal Inggris dan Afsel Ditemukan di Indonesia

Nasional

Update Covid-19 Pada 20 Oktober 2020: Pasien Sembuh Bertambah 4.410 orang