Home / Tajuk Rencana

Rabu, 15 April 2020 - 04:34 WIB

Covid 19, Ketakutan dan Dosa-dosa Kita

SEBAGIAN pemimpin dan penduduk di muka bumi ini sangat ketakutan, khawatir dan meningkatkan kewaspadaan terhadap virus corona yang sangat mematikan. Membunuh orang-orang yang terinfeksi dan tidak memiliki daya tahan tubuh tinggi, serta tidak tertangani oleh para dokter dan perawat tepat waktu. Selain itu yang pasti adalah Allah Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki siapa saja yang mati dengan penyebab terpapar dan terinfeksi virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China tersebut.

Semula ada pemimpin dunia dan tidak sedikit anak manusia yang tidak terlalu khawatir bahkan terkesab meremehkan kehadiran virus yang sudah menjadi pendemi, menyebar cepat ke manca negara tersebut. Namun, belakangan oknum-oknum pemimpin yang sombong dan berkomentar dengan nada “nguyok” apalagi menunjukkan keangkuhannya, terdiam seribu bahasa. Bahkan, ada juga yang menderita akibat terpapar corona.

Kita dan banyak orang agaknya sama-sama ketakutan dan sangat ketakutan dengan serangan virus corona tersebut. Mulanya pada awal Maret 2020 Virus Corona (COVID-19) hanya menginfeksi 28 orang di Indonesia. Namun sekarang, jumlah yang terinfeksi jauh lebih banyak dengan korban meninggal melonjak tajam, luar biasa.

Pasien Covid-19 yang terkonfirmasi positif bertambah 399 orang pada Minggu (12/4/2020). Dengan bertambahnya pasien tersebut, maka total kasus Covid-19 yang terkonfirmasi positif di Indonesia menjadi 4.241 kasus. Sementara yang meninggal dunia bertambah sebanyak 46 orang sehingga totalnya menjadi 373 orang. Sebaliknya jumlah pasien yang sembuh juga bertambah sehingga totalnya menjadi 359 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di BNPB, Minggu (12/4/2020) mengatakan, kasus terkonfirmasi positif masih terus bertambah karena penyebaran virus corona masih terjadi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, semua masyarakat harus bersatu padu untuk memutus penularan tersebut.
Sejumlah negara adikuasa yang pemimpinnya terkesan angkuh dan sombong, akhirnya mengalami nasib tragis. Amerika Serikat (AS) salah satu negara super power yang terkadang semena-mena melakukan “kezhaliman” terhadap bangsa dan negara lain, dan memihak membabi buta kepada negara-negara yang merupakan sekutunya, menjadi negara paling banyak korban meninggalnya setiap hari.

Pada Minggu (12/4/2020) pukul 05.30 WIB, jumlah kasus secara global menembus angka 1.774.063. Sedangkab 108.480 di antaranya meninggal dunia, sementara 401.500 berhasil sembuh dari Covid-19. Berdasarkan data worldometers.info, Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak dengan jumlah total menjadi 529.484 dan yang meninggal total 20.469. Sebaliknya yang sembuh 29.442

Semua yang hidup, tanpa kecuali, pasti takut mati kecuali yang sudah punya bekal amal sholeh jauh lebih banyak dari dosa-dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Dan, sesungguhnya kehadiran virus corona atau Covid 19 ini boleh jadi merupakan azab dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan semua orang, semua elemen, terutama di Bumi Pertiwi Indonesia tercinta. Jika bukan azab, setidak-tidaknya teguran atau peringatan dari Allah atas kesombongan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh sebagian yang diberi amanah berkuasa dan sebaliknya pembiaran oleh banyak orang yang mestinya bisa bertindak tetapi tidak mau karena alasan kepentingan pribadi.

Kita mesti melakukan evaluasi, introspeksi, dan bersungguh-sungguh dengan jujur memeriksa aib, kesalahan, arogansi dan dosa-dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Evaluasi, ontrospeksi itu wajib dilakukan mulai dari pemimpin tertinggi di Indonesia sampai ke pemimpin terendah yakni kepala keluarga dan diri sendiri. Tanpa kecuali. Jangan lagi menutup-nutupi. Buka dirilah dengan jujur dan kemudian tentukan sikap. Mengaku bersalah dan memohon ampunan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mengenai dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan langsung atau tidak langsung oleh pemimpin dan rakyat Indonesia yang berujung kepada turunnya azab atau minimal cobaan atau teguran itu kita akan paparkan sebagian setelah penjelasan tentang corona.

COVID-19 adalah singkatan dari coronavirus disease 2019 atau penyakit coronavirus 2019. CO adalah singkatan dari korona, VI singkatan dari Virus, D memiliki arti disease atau penyakit. Sementara, 19 mewakili tahun di mana virus ditemukan pertama kali yakni pada tahun 2019. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang tidak serta-merta melakukan langkah pencegahan ekstrem. Begitu muncul isu Covid 19 di Wuhan dimana pemerintahan setempat melakukan lockdown, melarang orang dari Wuhan keluar dan sebaliknya melarang orang dari luar masuk ke Wuhan dan yang terpenting mengisolasi (mengurung) penduduk untuk diam di rumah, tidak bekerja, tidak keluyuran, Pemerintah Indonesia tidak “melarang” orang luar masuk ke Bumi Pertiwi dan sebaliknya membiarkan warga Indonesia untuk berkunjung ke luar negeri.

Saat lockdown dilakukan di Wuhan, hanya untuk keperluan sangat penting dan mendesak saja, maka penduduknya diberikan izin keluar. Itu pun tidak boleh lama. Sebelum informasi wabah Covid 19 itu tersebar ke hampir seluruh negara di dunia, orang asing masih saja masuk ke Indonesia dalam jumlah yang besar. Sebagian dari mereka justru datang dari RR China, tempat Covid 19 menyerang cukup dahsyat. Salah satu alasan yang kita dengar adalah ketika Presiden Jokowi mengingatkan rakyat Indonesia agar jangan terlalu resah, jangan terlalu khawatir, sebab dari hasil penelitian para ahli, penderita Covid 19 itu sebagian terbesar atau sekitar 94 persen bisa disembuhkan.

Akibat tidak ada langkah antisipasi yang cepat dan tepat, maka virus corona itu pun masuk ke Indonesia dan menelan korban pertamanya seorang warga negara asing di Bali pada tanggal 10 Maret 2020 dini hari. Pasien kasus 25 ini diketahui memiliki penyakit penyerta hipertensi, diabetes, paru obstruksi dan hiperteroid.

SALAH DARI AWAL
Sesungguhnya kita rakyat dan bangsa Indonesia sedih dan prihatin dengan kenyataan yang terjadi. Wabah pandemi Covid 19 tersebut menjadi tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia, walau jumlahnya boleh dibilang tidak sebanyak di Italia, Iran atau Amerika Serikat. Padahal mestinya bisa diantisipasi sejak awal. Mestinya tidak perlu dibiarkan sampai meluas ke semua provinsi.

Baca juga  Rakyat Mesti Berani Melawan Suruhan Leasing

Kita prihatin dengan sikap dan kebijakan Pemerintah RI yang terkesan “telat” membuat kebijakan tegas yang semestinya bisa menhentikan atau setidaknya mengurani penyebaran Covid 19 tersebut. Pemerintah telat melakukan pemeriksaan ketat terhadap orang yang masuk dari luar negeri terutama dari negara-negara yang sudah ada korbannya, seperti China, sebaliknya juga tidak begitu tegas terhadap WNI yang keluar Indonesia.

Sekiranya, begitu “lockdown” dilakukan di Wuhan, China, pemerintah Indonesia “mengunci” arus masuk orang dengan pengamanan ekstra ketat sesuai protokol kesehatan yang benara, maka jumlah sebaran wabah virus corona tersebut tidak akan sedahsyat dan semengerikan seperti sekarang.

Bukan hanya presiden dana para pembantunya, para gubernur dan bupati/walikota juga boleh dikata telat bertindak tegas dan keras. Kalau dari awal sudah dibuat aturan tentang kewajiban setiap orang untuk tidak ke luar negeri atau larangan bagi warga asing dari luar negeri ke Indonesia, secara logika maka virus corona itu tidak akan menyasar ke banyak orang.

Bila di suatu desa tidak ada seorang pun yang keluar desa itu dan tidak pula ada orang luar (apalagi luar negeri) masuk ke desa tersebut, maka sesuai dengan penjelasan para ahli maka tentunya tidak akan ada yang terpapar Covid 19. Mengapa demikian? Karena virus corona dikabarkan bukan menyebar dibawa angin. Virus ini menyebar jika ada bersin dan sentuhan dari yang terinveksi dengan orang lain. Atau bekas pegangan dan cairan bersin pasien yang “dibiarkan” tersentuh oleh orang lain.

Bila ada di desa itu yang keluar dan menuju kota atau negara lain kemudian pulang lagi ke desa itu, maka mestinya orang tersebut wajib dikarantina dan diperiksa sesuai prosedur yang berlaku.

Pelarangan terhadap orang-orang yang bersentuhan dengan orang yang berasal dari daerah pandemi, tentu saja mempercepat penularan virus tersebut. Sebaliknya, jika tidak ada sentuhan, dengan orang lain yang terinfeksi covid 19, maka kecil kemungkinan covid 19 akan mewabah. Dan, sesungguhnya pelarangan itu harus dilakukan di semua daerah, baik di DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara maupun di ibukota provinsi, kabupatan dan kota lainnya.

Meski sudah sangat telat, tetapi patut disyukuri, dari pada tidak sama sekali. Pemerintah akhirnya menyetujui DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Jumat, 10 April 2020.

Anies mengungkapkan pemberlakuan PSBB ini nantinya akan fokus pada penegakan. Bagi warga yang melanggar, Pemprov DKI dibantu TNI dan kepolisian tak segan untuk mengambil tindakan tegas.

Setelah DKI Jakarta, Jabar juga disetujui PSBB meliputi daerah sekitar DKI Jakarta, seperti Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota dan Kabupaten Bogor serta Kota Depok. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendorong kota dan kabupaten yang sebagian rakyatnya bersentuhan dengan warga dan pemerintah DKI Jakarta masuk PSBB.

Pengetatan dan larangan-larangan sudah dibuat pemerintah. Ancaman wabah mematikan itu sudah tidak bisa dianggap sepele. Ketika Presiden Jokowi menyebutkan berdasarkan penjelasan para ahli 94 persen yang terpapar bisa disembuhkan, sesungguhnya kita sangat prihatin, Bukankah mencegah jauh lebih baik dari mengatasi. Sekarang, dengan banyaknya jatuh korban termasuk puluhan orang dokter dan perawat yang meninggal padahal mereka berjuang menyelamatkan pasien, banyak pihak baru tersadar.

Pemakaian masker menjadi “wajib”. Social Distancing diberlakukan. Maksudnya, upaya menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia. Jarak yang dianjurkan sekitar dua meter. Karantina dilakukan dengan maksud memisahkan dan membatasi pergerakan orang sakit maupun sehat yang diduga memiliki penyakit menular, untuk melihat apakah mereka benar-benar terinfeksi.

Bukan hanya itu, Isolasi pun dilaksanakan. Isolasi adalah memisahkan orang sakit yang memiliki penyakit menular dari orang sehat untuk mencegah penyebaran penyakit. Virus corona adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Bereproduksi dengan memanfaatkan sel makhluk hidup karena tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri.

DOSA-DOSA KITA
Sungguh banyak dosa-dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja. Kita maksudnya mulai dari pemimpin tertinggi di negeri ini, para kepala daerah, anggota legislatif, pejabat pemerintahan sipil maupun militer serta rakyat banyak.

Mulai dari Presiden, Kepala Negara sampai ke pejabat di tingkat paling rendah belum melaksanakan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia secara sungguh-sungguh, murni dan konsekwen. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum terwujud dengan baik. Pemerintah belum memelihara dengan baik dan cukup orang-orang yang masuk kategori fakir, miskin dan terlantar.

Padahal Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 sudah secara tegas menyebutkan, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.” Sedangkan pada pasal (2), “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.” Dan di pasal (3) ”Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Kemudian pada pasal 34 ayat (4) berbunyi, “Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.”

Adalah fakta tak terbantahkan negara belum melaksanakan kewajiban maksimal dan sungguh-sungguh memelihara fakir miskin dan orang terlantar. Memelihara yang dimaksudkan adalah membiayai kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka dengan anggaran yang cukup. Kalaupun ada yang diberikan pemerintah melalui Departemen Sosial atau Dinas Sosial di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, maka jumlahnya masih kurang, Kurang banyak, bahkan.

Ketidakadilan menjadi nyata tatkala sebagian pejabat dan aparatur sipil negara “diberikan” uang lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Uang lebih itu sebagian, jauh lebih banyak dari gaji dan tunjangan jabatan yang mereka terima saban bulan. Uang lebih tersebut dulu diberi nama Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dan sekarang berubah menjadi Tunjangan Kinerja (Tukin). Di sebagian daerah, Tukin itu bisa mencapai enam kali bahkan lebih dari sepuluh kali lipat gaji pokok yang diterima selama ini.

Baca juga  Reuni Yang Indah!

Fakta itu menunjukkan bahwa oknum pemerintah telah dengan lihai mengambil dan membag-bagikan uang rakyat kepada diri mereka sendiri dan para aparatur yang sesungguhnya sudah dibiayai dengan uang rakyat (negara). Dan, sebagian oknum lagi bisa hidup “mewah” padahal gaji dan pendapatan resmi bulanan merek tidaklah banyak nian.

Atas fakta ketidakadilan dan inkonstitusionalnya pemerintah tersebut, tidak banyak kita yang peduli dan memprotesnya. Sebagian mendukung karena berharap dapat jatah dari oknum-oknum yang memperoleh Tunkin besar. Sebagian tidak mau tahu karena menganggap bukab urusanya. Sebagian lagi tidak peduli. Jarang sekali kita mendengar orang marah melihat banyak fakir, miskin dan orang-orang terlantar hidup susah dan menderita serta tidak dipelihara dengan baik oleh negar.

Yang muncul belakangan, justru fakir miskin dan orang-orang terlantar benar-benar dipelihara negara agar tetap melarat. Dipelihara dalam artian negatif, sengaja dibiarkan tetap jadi fakir, miskin dan terlantar.

Bagi umat Islam “pembiaran” saudara-saudara seiman hidup melarat dalam keadaan fakir, miskin dan terlantar adalah dosa. Dan, sangat banyak orang Islam yang kaya atau diberi karunia rezeki oleh Allah SWT tetapi tidak mau menafkahkan sebagian hartanya untuk fakir, miskin dan terlantar serta anak-anak yatim. Padahal sangat banyak ayat Al Quran yang isinya memerintahkan, nafkahkanlah sebagian harta kamu kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Terkadang ada orang yang menikmati kekayaannya dengan memasak makanan lezat dimana aromanya menyebar ke para tetangga, dan di antaranya miskin, tetapi makanan tersebut tidak dibagi kepada tetangga itu oleh yang memasak. Ini pun kesalahan dan dosa.

Persaudaraan sebagian umat hanya ada dibibir. Tidak diaplikasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian mengejar kekayaan dan menikmati sendiri harta yang dimiliki tanpa mau melaksanakan kewajiban membayar zakat harta yang besarnya 2,5 persen untuk uang dan perhiasan serta 10 persen untuk hasil pertanian.

Dosa-dosa lain antara lain mengambil harta dengan cara yang batil. Termasuk di antaranya memakan sebagian aspal, semen, pasir, batu koral dan lain sebahnya melalui perbuatan tercela yang biasa disebut korupsi. Bila RAB 100 tetapi yang dikerjaaan hanya 40 atau 50 sudah masuk kategori mengambil uang negara dengan cara yang bathil.

Dosa yang tidak kalah hebatnya ketika banyak negara muslim yang dianuigerahi kekayaan berlimpah-ruah oleh Allah SWT, namun sebagian para pemimpin negara atau kerajaan tersebut sibuk “menikmati kekayaan” tersebut dan tidak sedikit yang difoya-foyakan. Mestinya pemimpin kerajaan/negara muslim yang kaya itu membantu pemerintahan negara muslim lainnya. Mestinya uang yang banyak itu dibagi-bagikan dalam bentuk; zakat, infak, sadaqah atau wakaf kepada banyak umat Islam di banyak negara termasuk di Indonesia yang sebagian hidup fakir, miskin bahkan melarat.

Di banyak negara, tidak sedikit umat Islam yang dizhalimi bahkan “dihabisi” oleh penduduk yang non muslim melalui penyiksaan bahkan pembantaian. Dunia yang dipimpin tokoh-tokoh non muslim justru terkesan membiarkan “pembantaian” terjadi di banyak negara. Padahal kebiadaban seperti itu mestinya dibasmi dengan sungguh-sungguh.

Kabar tersebar sebelum adanya penyebaran Covid 19 itu, diduga banyak umat Islam yang “dizhalimi” serta dianiaya bahkan dikabarkan dibunuh di Wuhan. Kabar tersebut menyebar luas di media-media sosial dan sejumlah tokoh Islam di Indonesia dengan aneka organisasi atau kelompok mereka melakukan demonstrasi mendesak agar kebiadaban tersebut dihentikan. Ketika virus coro menyerang dan Wuhan menjadi kota mati, banyak orang yang mengaitkan virus yang melumpuhkan kegiatan bisnis dan pemerintahan di Wuhan itu merupakan azab dari Allah atas kezhaliman yang dilakukan terhadap kelompok muslim dari etnis Uighur.

Dosa dan kebiadan lainnya di dunia terutam di Indonesia adalah dilestarikan bahkan dimasyarakatkannya kegiatan yang diharamkan Allah. Yakni riba. Praktek riba di perbankan nasional termasuk yang di perbankan syariah sudah sangat terang benderang dan dibiarkan semua pihak. Pemerintahan sekarang malah mendorong semua rakyat memiliki rekening di bank untuk aneka transaksi.

Bunga bank yang tinggi merupakan riba yang sangat nyata. Agaknya, semua yang menjadi nasabah bank dan atau pemilik, pengelola dan pegawai perbankan dimana riba dipraktekkan akan mendapat balasan berupa azab dari Allah. Fakta ini sungguh menyakitkan.

Riba di Indonesia dahsyat luar biasa. Bunga bank sempat berkisar 14-16 persen setahun. Sedangkan Islam mengajarkan tentang kewajiban bayar zakat harta hanyalah 2,5 persen setahun, kecuali untuk komoditas pertanian 10 persen setahun. Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah sejak puluhan tahun silam menyatakan dalam fatwanya bahwa bunga bank adalah riba dan haram.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bunga bank itu haram dan merupakan riba dimuat dalam Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FA’IDAH). Fatwa tersebut ditetapkan di Jakarta, 05 Dzulhijjah 1424H/ 24 Januari 2004 M oleh Komisi Fatwa MUI yang ditandatangani oleh Ketua, K.H. Ma’ruf Amin dan Sekretaris Hasanudin.

Terhadap praktek riba itu, kini sejak bertahun-tahun silam, tidak ada yang memprotes dan menolaknya dengan sungguh-sungguh. Maka jadilah kita hidup dalam kehidupan riba di banyak aspek kehidupan.

Sungguh banyak lagi dosa-dosa dan kesalahan kita semua. Sekarang dengan didatangkannya virus corona atau Covid 19 maka banyak orang tentu saja dihadapkan kepada ketakutan terkena infeksi dan kemudian mati. Sesungguhnya yang perlu ditakutkan lagi adalah apakah kita akan mati dengan banyak dosa yang ada, tanpa sempat menghentikan dosa-dosa selanjutnya dan memohon ampunan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa?

Pertanyaan pokoknya, apakah kita mengakui banyak dosa-dosa dan kesalahan kepada Allah dan kepada sesama manusia? Apakah mungkin karena dosa-dosa dan kesalahan yang kita buat, maka Allah menurunkan azab berupa virus mematikan yang membuat banyak orang ketakutan dan banyak kegiatan, bahkan kezhaliman pun terhenti di muka bumi ini? Sadarkah kita dengan fakta itu? Maukah kita kembali ke jalan yang benar? Ke jalan yang diridhai Allah SWT. (Afdhal Azmi Jambak 13 April 2020).

Share :

Baca Juga

Tajuk Rencana

Tobat dan Makin Taatlah, Corona Insya Allah Punah

Tajuk Rencana

Mana Cukup, Rp. 179 Ribu Untuk 1 KK Selama 15 Hari!

Tajuk Rencana

Rakyat Mesti Berani Melawan Suruhan Leasing

Tajuk Rencana

Reuni Yang Indah!