Home / Regional

Kamis, 27 Februari 2020 - 08:44 WIB

Jakarta Banjir Lagi, Ini Solusi Jangka Panjang Menurut LIPI

Jakarta, Transparanmerdeka.co

Ibukota Republik Indonesia, kembali terendam banjir, setelah curah hujan yang tinggi mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada 24 Februari 2020. Lantas apa solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir itu. “Kalau bicara banjir, kita bicara ekosistem sungai, itu kaitannya dengan daerah aliran sungai,” kata Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Muhammad Fakhrudin.

Artinya, manajemen banjir juga erat kaitannya dengan manajemen daerah aliran sungai, yang termasuk juga di dalamnya terkait masalah dari hulu ke hilir. Dari potret Jakarta, Fakhrudin mengungkapkan, ada sekitar 13 sungai besar yang mengalir di wilayah ibukota, termasuk sungai-sungai di Bekasi.

“Sungai-sungai ini (sebagian besar) hulunya sampai Kabupaten Bogor. Tinggal diklasifikasikan, kalau hulunya dikhususkan daerah-daerah resapan air, maka apa yang harus dilakukan,” ungkap Fakhrudin seperti dikutip dari laman ‘kompas.com, Kamis (27/2/2020).

Baca juga  Anggota DPRD Palembang Disuntik Vaksinasi Kedua

Ditegaskan, daerah resapan air yang sangat baik adalah hutan. Namun, di kawasan hulu, tidak sedikit hutan yang sudah mulai beralih fungsi. Reboisasi atau penghijauan hutan kembali, dapat menjadi solusi untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah resapan air yang paling baik.

“Apabila hutan beralih fungsi sebagai lahan pertanian, maka perlu adanya penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air. Namun, ternyata kontribusi pertanian (di daerah hulu) terhadap erosi tanah sangat tinggi sekali. Itu yang kadang dilupakan,” jelasnya.

Permukiman juga mulai banyak dikembangkan di wilayah-wilayah pegunungan, disarankan perlun optimalisasi sumur-sumur resapan. Sisanya, air akan mengalir ke hilir dan ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Berikut ini, kesiapan di daerah hilir untuk menghadapi limpahan air yang tinggi dari hulu.

Baca juga  5 Pegawai PN Palembang Negatif Covid-19, 18 Lainnya Tunggu Hasil Swab

1. Kesiapan kolam retensi atau kolam alami (situ) Kolam retensi akan menampung limpahan air. Situ atau kolam retensi ini, kata Fakhrudin, berperan menahan air. Sebelum air didrainase ke laut.

2. Sistem drainase harus komperhensif Drainase air ke laut harus memiliki sistem yang komperhensif. Namun, kata Fakhrudin, masalahnya adalah banyak lahan yang berada di bawah permukaan air laut. Padahal, kita tahu air itu harus didrainase ke laut. Untuk itu, sistem pompanisasi juga harus baik dan sistem drainase juga harus komperhensif.

3. Drainase lokal harus terintegrasi oleh sungai Drainase lokal, seperti di permukiman, harus terintegrasi dengan drainase yang ada di sungai-sungai besar. Sungai-sungai tadi yang menuju ke laut, sehingga untuk menyusun drainase itu, kita harus melihat kapasitas salurannya. Nah, untuk melihat kapasitasnya itu perlu prediksi curah hujan. (adm)

Share :

Baca Juga

Regional

Kasus Covid-19 Sumsel Tambah Terus, Ahli Epidemiologi: Perhatikan 3M dan 3T

Regional

Gubernur Sumsel Sebut Ancaman Covid-19 Kian Meningkatkan

Regional

Soal Bansos Tak Tetap Sasaran, Ketua DPRD PALI Akan Panggil Dinsos

Regional

Gubernur Sumsel Resmikan Agrowisata Bekicau Sindang Panjang

Regional

Di Jakarta, Tenaga Medis Terinfeksi Covid-19 Jadi 42 Orang

Regional

Dua Anggota DPRD DKI Jakarta Positif Covid-19

Regional

Positif Covid-19 Sumsel Capai 6.135 Kasus, Tiga Wilayah Ini Sumbang Pasien Terbanyak

Regional

Jelang Ramadhan, Pemkot Palembang Gelar Pasar Murah