Home / Nasional

Rabu, 17 Juni 2020 - 07:36 WIB

Pakar Epidemiologi UI: Sebutan Zona Merah Covid-19 Menyesatkan Masyarakat

RT 06/02, Petamburan, Jakarta, nyaris tak tampak aktivitas warga di zona merah corona pemukiman padat penduduk ini. (dtk)

RT 06/02, Petamburan, Jakarta, nyaris tak tampak aktivitas warga di zona merah corona pemukiman padat penduduk ini. (dtk)

JAKARTA, Transparanmerdeka.co – Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono menentang penyebutan zona merah penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 di berbagai daerah, khususnya DKI Jakarta. Dia menganggap istilah ini hanya akan menyesatkan masyarakat.

Dikatakan, seharusnya tidak ada pemberian nama zona merah. Jika satu provinsi masih memiliki kasus positif corona yang tinggi, maka seharusnya dianggap seluruh wilayahnya rawan. “Jadi jangan melihat zona-zona lagi sekarang. anggap aja DKI semuanya merah. Karena yang paling penting tingkat kewaspadaan, bukan zona,” kata Pandu seperti dilansir ‘suara.com’, Rabu (17/6/2020).

Pandu menyebut bahwa pemberian istilah zona merah terkesan menandai suatu wilayah yang berbahaya. Padahal area itu hanya menjadi tempat tinggal pasien positif corona. Sementara pasien yang beralamat di lokasi itu bisa saja tertular di tempat lain, bukan di rumahnya. Akhirnya orang lain menganggap zona hijau aman padahal bisa saja pasien tertular di wilayah yang dianggap aman itu.

Baca juga  Bukan Arus Pendek, Bareskrim: Kebakaran Gedung Kejagung Ada Unsur Pidana

“Istilah itu menjadi sesat menurut saya. Karena menimbulkan harapan bisa salah. Orang bisa berpikir ‘oh daerah kita aman’, padahal bukan karena aman,” jelasnya.

Dikatakan, pemerintah daerah termasuk DKI sudah diingatkan FKM UI untuk tidak menggunakan istilah zona merah. Namun Gugus Tugas Nasional sudah memberikan instruksi kepada daerah untuk memakainya dan tak bisa diganggu gugat. “Itu kan keliru, menyesatkan. Jadi saya sangat protes keras dengan penilaian zona-zona yang dilakukan oleh BNPB,” pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, setidaknya masih ada 66 RW yang masih tinggi tingkat penularan virus coronanya atau zona merah. Warga 66 RW itu lantas diminta agar terus berada di rumah. Ke-66 RW ini tersebar di berbagai wilayah kota administrasi Jakarta. Wilayah itu disebutnya akan tetap dilakukan pengendalian ketat demi mencegah penyebaran corona.

Baca juga  Update Covid-19 pada 14 Juni 2021: DKI Jakarta Sumbang 2.722 Kasus Baru

Sebanyak 66 RW itu rinciannya ada 15 RW di Jakarta Barat, 15 RW di Jakarta Utara, 15 RW di Jakarta Timur, 15 RW di Jakarta Pusat, 3 RW di Jakarta Selatan, dan dua pulau di Kepulauan Seribu. “Jadi pada wilayah yang masih memiliki insiden rate yabg tinggi kita masih tetap perlu tinggal di rumah,” ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta.

Meski dia sudah melonggarkan kegiatan di Jakarta, namun hal ini tak berlaku bagi 66 RW itu. Kegiatan sosial dan ekonomi masih harus ditutup sementara waktu sampai kondusif. “Segala kegiataan sosial ekonomi masih harus tutup tetap dilakukan kerja dari rumah keluar masuk wilayah harus ada pengaturan,” jelasnya. (adm)

Share :

Baca Juga

Nasional

Update Covid-19 pada 25 Maret: Pasien Positif Tambah 6.107 Orang

Nasional

Update Covid-19 Indonesia 3 Juli: Pasien Positif Bertambah 1.301 Kasus

Nasional

Pakar Sebut Tambahan Kasus Covid-19 Harian di Indonesia Sudah 20 Ribu

Nasional

WINNER 2020 Fokus Pada Kolaborasi Sains dan Pendidikan Indonesia-Belanda

Nasional

Mengkhawatirkan, 5 Wilayah DKI Jakarta Berisiko Tinggi Penularan Covid-19

Nasional

Satgas Sebut Covid-19 Merebak Akibat Mutasi D614G

Nasional

Ini Daftar Pegawai KPK yang Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Nasional

Kirim Surat ke Presiden Joko Widodo, ICW Minta Jaksa Agung Dicopot