Home / Regional

Jumat, 19 Juni 2020 - 08:37 WIB

Pasien Zona Merah Harus Rapid Tes, Jika Emergency Dulukan Rasa Kemanusiaan

Ketua Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Sumsel, Prof,Yuwono. (tribunnews)

Ketua Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Sumsel, Prof,Yuwono. (tribunnews)

PALEMBANG, Transparanmerdeka.co – Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) melalui surat edaran yang mereka keluarkan memperbolehkan dokter untuk mengarahkan pasien dilakukan rapid test sebelum dirawat di rumah sakit.

Tentu saja dengan beberapa catatan, salah satunya berlaku untuk pasien yang akan menjalani perawatan tersebut datang dari zona merah Covid-19 atau Corona Virus Disease 2019. Juga bisa pula diberlakukan kepada pasien yang memiliki riwayat kontak dengan pasien Covid-19. Imbauan tersebut juga berlaku untuk pasien yang akan melahirkan ataupun yang akan menjalani operasi

Menanggapi hal tersebut, Prof Yuwono, Ketua Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Sumsel mengatakan, hal tersebut sama seperti awal kejadian Covid-19 lalu. Setiap pasien yang datang untuk berobat ke rumah sakit dicurigai terpapar Covid-19, untuk memastikannya maka dari itu dilakukan rapid test tersebut.

Baca juga  DKI Jakarta Berlakukan PSBB Transisi, Ini Kata Anies Baswedan

“Gugus tugas sebenarnya tidak sampai pada posisi cara perawatan pasien. Diawal kejadian Covid-19 kita belum mempunyai alat PCR yang memadai. Jadi setiap pasien yang datang berobat dicurigai ada Covid-19, untuk memastikan ya atau tidaknya, dilakukanlah rapid test tersebut,” kata Yuwono, Jumat (19/6/2020).

Menurutnya, PERSI merekomendasikan hal tersebut karena hasil yang mengarah ke Covid-19 nantinya bermasalah pada prosedur BPJS Kesehatan. “Ibaratnya, jika tidak ada indikasi Covid-19 dan dirawat, nanti BPJS Kesehatan tidak menanggung biaya perawatannya,” lanjutnya.

Walaupun demikian, untuk dalam keadaan emergency seperti halnya untuk orang yang mau melahirkan, tentunya hal yang paling utama yakni fokus kepada proses kelahirannya. Setelah itu nanti barulah pasien dilakukan rapid test. “Aspek kemanusiaan nomor satu, gawat didulukan karena mengancam jiwa, darurat harus segera dilakukan, jadi intinya kita mendulukan kemanusian,” kata Yuwono yang juga menjabat sebagai Direktur RS Pusri Palembang ini.

Baca juga  Untuk Transportasi Tenaga Medis, Jakarta Siapkan 50 Bus Sekolah

Dikatakan, jika masyarakat tidak mampu membayar rapid test, tidak masalah. Mereka bisa langsung mengatakan hal tersebut untuk tidak dilakukan rapid test. Hanya saja, masyarakat agar tidak takut untuk ke rumah sakit. Jika memang tidak mampu membayar, masyarakat bisa langsung menyampaikan hal tersebut pada saat datang ke rumah sakit.

“Masyarakat jangan takut untuk ke rumah sakit, kalau memang tidak bisa dari awal mau ke rumah sakit langsung bilang, kebanyakan masyarakat tidak bilang dari awal kalau tidak mampu rapid test,” kata Yuwono. (adm)

Share :

Baca Juga

Regional

Herman Deru Teken Kenaikan UMP Provinsi Sumsel

Regional

Tak Gunakan Masker, 13 Pengendara Motor Masuk Karantina di Palembang

Regional

Jelang Pilkada Serentak 2020, Herman Deru: Jaga Protokol dan Kondusif

Regional

Ujian Nasional Ditiadakan, Disdik Sumsel Lakukan Ini

Regional

Kasus Covid-19 di Sumsel Tembus 8.022 Orang

Regional

Selama Pandemi Covid-19, Jakarta Musnahkan 860 Kilogram Masker Bekas

Regional

Bupati Bogor Hibahkan Rp132 miliar Untuk Insentif Guru Honorer

Regional

Tanggung BPJS Kesehatan Honorer, Pemkot Palembang Siapkan Rp3,5 M