Home / Nasional

Senin, 24 Agustus 2020 - 07:47 WIB

Prof Yuwono: Kandidat Vaksin Covid-19 Ibarat Sistem Ijon, Ini Penjelasannya

PALEMBANG, Transparanmerdeka.co – Nama Prof Dr dr Yuwono M Biomed, ahli mikrobiologi di Sumatera Selatan (Sumsel), mendadak menjadi trending topic di medsos twitter. Semua itu terkait dengan pernyataannya saat menanggapi mengenai kandidat atau calon vaksin Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19.

Diberitakan, sejumlah kandidat vaksin memasuki fase 3 uji klinis dibeberapa negara, sedangkan pemerintah Indonesia sudah memastikan akan menerima bulk atau konsentrat Ready to Fill (RTF) calon vaksin Covid-19 Sinovac sebanyak 50 Juta dosis pada November 2020 hingga Maret 2021.

Keputusan tersebut menuai pro dan kontra ditengah masyarakat, yang mengatakan bahwa pemerintah terlalu terburu-buru mengambil keputusan tersebut. Menanggangi hal itu, Prof Dr dr Yuwono M Biomed melalui akun facebooknya menyebut sikap pemerintah dengan istilah ijon atau penjualan buah atau padi yang masih hijau namun sudah dijual.

“Kandidat vaksin yang masih uji coba sudah heboh ditawarkan, ibarat buah masih hijau sudah dijual, ijon ciri khas rentenir,” kutipan dalam postingannya di fanpage Prof Yuwono yang dilansir ‘palembang.tribunnews’, Senin (24/8/2020).

Ungkapannya sebagai seorang dokter menyebar di beberapa media sosial lainnya, yang mana selama ini tugasnya melakukan edukasi, tracing, testing serta treatment, justru semakin hari, pandemi ini terlihat indikasi seperti adanya “drama” yang menguntungkan golongan tertentu.

Baca juga  Pantau Prokes di Tanah Abang, Panglima TNI dan Kapolri Bagikan Masker

“Sejenak, saya lupakan ini dan saya fokus dalam edukasi, tracing, testing serta treatment. Semakin hari hingga hari ini semakin terlihat indikasi bahwa pandemi ini seperti “drama” yang ujungnya “untung” bagi “sutradara atau perekayasa”,” ujar Yuwono.

Penjelasan lebih lanjut mengenai postingan tersebut, menurut Prof Yuwono, dia ingin masyarakat paham bahwa pandemi yang telah menyebar di seluruh dunia ini dapat terjadi karena adanya perubahan genetik atau mutasi yang terjadi secara alami atau bisa terjadi dengan rekayasa atau buatan.

Awalnya dirinya tidak ingin fokus mengenai hal tersebut, namun belakangan semakin terlihat adanya indikasi bahwa pandemi ini seperti ada keinginan dari orang luar Indonesia, salah satunya permasalahan vaksin.

“Saya sebut sebagai masalah, karena hampir banyak negara yang ingin saling mendahului memproduksi vaksin tersebut, padahal semuanya masih dalam tahap uji coba fase 3,” ujarnya, Senin (24/8/2020).

Padahal kenyataan di masyarakat, bahwa di seluruh dunia tingkat kesembuhan Covid-19 ini sudah diatas 70 persen, yang artinya orang sudah mempunyai imunitas. Bahkan diperkirakan dua bulan ke depan, tingkat kesembuhan sudah dapat di atas 90 persen.

Baca juga  Corona Virus Disease Telah Menyebar di 29 Provinsi

“Kita akan produksi vaksin tahun depan, kalau sudah seperti itu untuk apa vaksin?” tanyanya.

Selain itu, kata “drama”, “rekayasa” dan “sutradara” yang dia maksud bahwa ada kelompok tertentu yang senang memanfaatkan kondisi pandemi ini, dengan mendapatkan cuan atau keuntungan. Namun, bukan berarti dia memihak pada konsep konspirasi atau pun anti vaksin.

Mengenai vaksin yang masih memasuki tahap fase 3 uji klinik, pemerintah harusnya dapat transparan dalam mengumumkan hasil uji coba vaksin, dengan benar-benar dibuka. Apakah hasilnya menimbulkan neutralizing antibody atau tidak, yang mana jika tidak menimbulkan itu berarti calon vaksin tersebut gagal.

Daripada membeli kandidat vaksin, yang masih memasuki fase 3 uji klinik, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan ditengah masyarakat. “Akan lebih baik pemerintah fokus pada kesehatan masyarakat, dengan memperhatikan aspek imunitas masyarakat daripada aspek vaksin,” jelasnya.

Beberapa halnya dengan membangun kembali fasilitas rumah sakit, menambah edukasi masyarakat, memberikan suplemen dan vitamin kepada masyarakat secara massal. “Lebih baik untuk memperhatikan aspek imunitas masyarakat daripada aspek vaksin yang belum jelas,” pungkasnya. (adm)

Share :

Baca Juga

Nasional

ITW: Operasi Zebra Polri Jangan Hanya Jadi Kegiatan Rutin Tahunan

Nasional

Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Butuh Lebih Banyak Relawan Medis

Nasional

Update Covid-19 pada 18 Mei 2021: Kasus Baru Tambah 4.185 Orang

Nasional

Satgas Covid-19: Data Yang Dilaporkan Sesuai Dengan Yang Didapat

Nasional

Update Covid-19 pada 7 Januari: Rekor Baru Pasien Positif

Nasional

Yurianto: Sebagian Besar Penambahan Kasus Positif Covid-19 Adalah OTG

Nasional

Dokter Reisa Sarankan Ganti Masker Setelah Empat Jam Pemakaian

Nasional

Update Covid-19 pada 18 November: Pasien Positif Bertambah 4.265 Orang