Home / Tajuk Rencana

Kamis, 20 Mei 2021 - 12:02 WIB

Tobat dan Makin Taatlah, Corona Insya Allah Punah

Afdhal Azmi Jambak SH

Afdhal Azmi Jambak SH

VIRUS CORONA faktanya memang ada. Virus tersebut seperti virus influensa. Akibat serangan virus tersebut, sebagian besar yang terpapar alhamdulillah sehat-walafiat. Hanya sebagian kecil yang meninggal dunia dan sebagian dari yang meninggal dunia itu karena sudah menderita penyakit lainnya seperti sakit paru-paru, kencing manis, jantung, ginjal dan lain sebagainya.

Virus yang menghebohkan bermula di Wuhan, China tersebut sudah “merusak tatanan” kehidupan. Banyak aktivitas berubah karena kebijakan yang diambil pemerintah dengan alasan untuk memutus mata rantai penularan virus corona tersebut. Pernah ada kebijakan bekerja dari rumah (work from home), belajar lewat daring, tidak boleh beraktivitas ke luar rumah, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, untuk kegiatan ibadah pun ada larangan dan atau setidaknya imbauan. Harus mengikuti protokol kesehatan (Prokes) yakni memakai masker dan shalat berjarak-jarak. Padahal perintah Nabi Muhammad SAW, “Shalatlah kamu seperti aku shalat.” Dan, Nabi Muhammad SAW junjungan umat Islam yang beriman memerintahkan luruskan shaf dan rapat. Sebab lurus dan rapat itu adalah salah satu kesempurnaan shalat berjamaah.

Jumlah korban meninggal akibat terkena serangan virus corona itu ada. Namun, menurut Profesor Yuwono, salah satu ahli mikribiologi dan juga ulama terkemuka di Palembang, jumlah korban meninggal akibat covid 19 tidak sebanyak yang meninggal dunia karena penyakit tertentu lainnya.

Ketika tiba-tiba ada informasi Kota Palembang masuk zona merah Covid 19, kita selaku rakyat kecil kaget dan bertanya-tanya.

Seberapa parahkah serangan virus corona itu di Ibukota Sumsel ini? Pertanyaan besar menyeruak di benak sebagian masyarakat, seberapa dahsyatnya serangan virus itu? Ada berapa banyak orang yang positif covid 19 dan berapa banyak pula yang meninggal dunia gara-gara Covid 19 tersebut? Warga di daerah mana sajakah yang terpapar dan tewas karena serangan virus corona itu?

Deretan panjang pertanyaan muncul, karena sesungguhnya peristiwa warga yang positif covid dan meninggal dunia, tidak banyak terdengar. Pada tahun lalu, ketika ada yang positif, apalagi meninggal dunia, maka kota ini menjadi heboh.

Sekarang, pada tahun 2021 ini, rasanya tidak terlalu banyak yang meninggal karena Covid 19. Di beberapa wilayah, kita coba menggali informasi, ternyata pada tahun 2021 tidak ada warga di RT-RT tertentu yang kena serangan virus corona.

Di RT. 004 RW 002 Kelurahan 20 Ilir D 3 Kecamatan Ilir Timur I, Kota Palembang, tidak ada seorang pun yang positif Covid 19. Dan, tidak pula ada yang meninggal karena Covid 19. Sedangkan pada tahun 2020 ada seorang dokter yang warga di RT itu yang positif dan setelah menjalani isolasi di Wisma Atlet Jakabaring, yang bersangkutan pulang dan bekerja seperti biasa.

Informasi dari Ketua RT. 004, Liesmiyati tersebut menunjukkan kenyataan yang berbeda. Faktanya keadaan sekarang lebih baik. Di Kelurahan Talang Kelapa, sebagaimana diungkap Simon, Ketua RT. 63, tidak ada seorang pun yang positif Covid 19 sepanjang tahun 2021 ini.

Di Lebong Gajah juga demikian. Tidak ada yang terpapar Covid 19. Keterangan itu disampaikan Anwar Rasuan, salah satu wartawan senior, mantan Ketua RT.

Kita percaya bahwa terhadap virus corona yang memang nyata adanya, haruslah ada usaha maksimal untuk meningkatkan daya tahan tubuh (immunitas). Salah satu caranya dengan meningkatkan asupan gizi dan berjemur serta berolahraga.

Baca juga  Rakyat Mesti Berani Melawan Suruhan Leasing

Meski demikian, semua kita, terutama kalangan pejabat pengambil keputusan wajib hukumnya percaya bahwa Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan semua. Virus corona Itu hadir karena izin Allah. Dan, siapapun yang meninggal dunia setelah terpapar covid 19, itu pun sudah waktunya sesuai jadwal yang ditetapkan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kematian itu pasti. Semua makhluk hidup yang bernyawa, termasuk kita, pasti mati. Akan tetapi kapan, dimana dan dalam keadaan apa mati, tidak seorang pun yang tahu.

Banyak orang yang terpapar Covid 19 dan kemudian sehat walafiat setelah isolasi mandiri, berdoa dan meningkatkan immunitas tubuhnya.

Oleh karena itu, janganlah sampai sesat dalam menghadapi serangan virus corona tersebut. Adalah sangat keliru bila menyatakan virus corona yang mematikan seseorang.

Mengapa keliru, karena yang menentukan seseorang mati, sehat setelah terpapar virus corona adalah Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mata rantai virus corona itu tidak akan terputus bila Allah Tuhan Yang Maha Kuasa belum memutuskan mata rantai tersebut.

Adalah fakta tak terbantahkan, ada saja orang yang rajin dan disiplin pakai masker, melaksanakan tiga M dan berbagai usaha lainnya, tetapi kemudian terdengar kabar meninggal dunia.

Sesungguhnya bukan corona, tetapi karena ajal yang bersangkutan sudah sampai. Meninggal dunia alias mati itu sudah ada jadwalnya. Tidak bisa ditunda atau dimajukan oleh kita. Bagaimana mau menunda, jika jadwal pasti baik hari, tanggal, jam dan tempat akan meninggal itu kita pun tidak tahu.

Yang perlu dan wajib dilakukan adalah; semua kita, terutama para pemimpin mendekatkan diri kepada Allah. Memohon pertolongan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita semua wajib menjadi hamba yang patuh dengan perintah-Nya.

Dan, dengan sendirinya setiap kita mesti bersiap untuk mati. Sesungguhnya, kehadiran virus corona ini harus dijadikan pelajaran berharga oleh semua orang. Virus ini boleh jadi merupakan azab bagi kita umat manusia karena banyaknya kemaksiatan yang terjadi.

Kemaksiatan yang tidak bisa dibantah adalah adanya perzinahan di sejumlah hotel atau penginapan dan tempat kos. Walau tidak semua hotel, penginapan dan kos itu tempat perzinaan. Namun, ada di antara tempat itu dijadikan arena zina oleh sejumlah orang.

Pemilik dan atau pengelola tempat-tempat tersebut mungkin tidak tahu, atau bisa jadi tahu tetapi membiarkannya karena berkaitan dengan duit masuk yang cukup banyak dari pembayaran sewa. Pernahkah kita mendengar kabar adanya yang meninggal dunia di hotel, setelah melakukan perzinaan?

Karena adanya sepasang atau lebih yang berzina, maka akibatnya akan menimpa orang lain. Menurut ulama 40 rumah di sekitar tempat perzinaan itu akan terkena dampaknya. Dan selama ini, boleh dikata tidak ada atau setidaknya jarang ada orang yang mau dan berani memberantas dan atau menghentikan perbuatan dosa besar tersebut. Alasan paling banyak, karena ngeciki bala. Bukan urusan kita. Biarlah mereka yang akan menanggung dosanya.

Umat Islam tidak boleh cuek. Wajib hukumnya mencegah kemunkaran dengan kekuasaan (tangan) atau dengan ucapan (lisan) dan yang paling lemah imannya dengan doa.

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar itu menjadikan setiap muslim harus tahu, peduli dan berani menegakkan kebenaran.

Baca juga  Update Covid-19 pada 15 Februari: Kasus Positif Capai 1.223.930 Orang

Untuk bisa menegakkan kebenaran, maka setiap orang wajib melakukan kebenaran itu mulai dari dirinya sendiri.
Selain zina, riba juga merajalela. Dan, yang paling banyak, yang mungkin tidak disadari oleh sebagian penyelenggara negara adalah perbuatan memakan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar.

Barangkali sebagian besar kepala daerah baik gubernur, bupati, walikota dan para wakil rakyat di provinsi, kabupaten dan kota tidak memberikan hak-hak fakir, miskin dan anak-anak terlantar dalam jumlah cukup dan wajar.

Banyak warga miskin dan yang fakir (lebih parah dari miskin) yang tidak pernah menerima haknya dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam jumlah wajar dan cukup. Tidak ada anggaran dana APBD untuk mereka dalam jumlah cukup dan wajar.

Sebaliknya, sebagian kepala daerah dan wakil-wakil rakyat justru membuat peraturan untuk bisa mengambil uang APBD itu untuk diri sendiri dan untuk para pegawai yang sudah diberikan gaji dalam jumlah lumayan tiap bulan. Sebagian di antara mereka diberikan fasilitas kendaraan dan perumahan.
Para pegawai yang sudah bergaji jutaan rupiah per bulan itu, masih diberikan tambahan penghasilan dan ada juga yang diberikan tunjangan kinerja dalam jumlah yang terkadang jauh lebih besar dari gaji.

Apakah kebijakan atau tindakan yang memperkaya yang sudah bergaji tersebut sedangkan fakir, miskin dan anak-anak terlantar tidak disediakan anggaran yang cukup dan wajar, tidak bertentangan dengan ajaran agama?

Yang pasti kebijakan itu bertentangan dengan pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

Untuk menghentikan azab virus corona itu, maka setiap orang hendaknya menghentikan kemaksiatan dan dosa yang selama ini dilakukan langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja.

Bagi yang tidak (merasa) berdosa, dan selalu rajin melaksanakan kewajiban personalnya, maka tugasnya adalah mencegah kemunkaran atau kemaksiatan yang dilakukan orang lain. Caranya haruslah sesuai dengan perintah Allah di dalam Al Quran dan Hadis.

Menjelang berakhir Ramadhan, sebagian umat dibuat kaget dengan adanya pernyataan larangan shalat Iedul Fitri di masjid-masjid dan mushalla-mushalla di Kota Palembang. Penegasan itu disampaikan Walikota, Harnojoyo dengan alasan Palembang zona merah, dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah yang kena covid 19.

Pernyataan walikota itu mendapat reaksi beragam dari masyarakat. Banyak yang mempertanyakan, mengapa untuk melaksanakan perintah Allah Tuhan Yang Maha Kuasa kok dilarang? Bukankah tidak pernah ada klaster penyebaran covid 19 dari masjid?

Orang-orang yang rajin shalat berjamaah di masjid sesuai tuntutan Rasulullah, insya Allah tidak ada yang covid 19 dan meninggal dunia. Sesungguhnya, kita mengharapkan semua pemimpin dan rakyat makin taat kepada Allah.

Dengan adanya virus corona ini, maka kita semua orang wajib memohon kepada Allah. Sebab, Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan segalanya. Oleh karena itu jika kita menginginkan hidup normal, virus corona punah, maka yang utama yang harus kita laksanakan adalah dengan tobat atas dosa-dosa dan kesalahan selama ini.

Kemudian memohon kepada Allah agar corona dienyahkan dari Palembang dan Indonesia umumnya.

Selamat bertobat dan makin taat, semoga kita menjadi hamba yang Taqwa. (Afdhal Azmi Jambak, wartawan Transparanmerdeka.co)

Share :

Baca Juga

Tajuk Rencana

Covid 19, Ketakutan dan Dosa-dosa Kita

Tajuk Rencana

Rakyat Mesti Berani Melawan Suruhan Leasing

Tajuk Rencana

Reuni Yang Indah!

Tajuk Rencana

Mana Cukup, Rp. 179 Ribu Untuk 1 KK Selama 15 Hari!